Sri Mulyani menyapa Widjojo Nitisastro (Antara/ Aldino Anatusa)
VIVAnews - Arsitek ekonomi Orde Baru, Widjojo
Nitisastro tutup usia hari ini, Jumat, 9 Maret 2012. Rencananya, jenazah
Widjojo Nitisastro akan disemayamkan di Gedung Bappenas, dan akan
dimakamkan dengan proses upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta Selatan.
Semasa hidup, Widjojo memang dikenal
sebagai salah satu ekonom Indonesia yang paling disegani. 'Gelar'
arsitek ekonomi Orde Baru pun bukan diberikan tanpa alasan. Widjojo
merupakan figur penting yang membangun kebijakan ekonomi di masa
pemerintahan otoriter Presiden Soeharto.
Kebijakan ini pun
sekaligus diemban Widjojo sambil menjabat Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional dari tahun 1971 hingga 1973. Kemudian Widjojo
menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan
Industri, sekaligus sebagai Ketua Bappenas.
Ekonomi yang dibangun puluhan tahun itu ambruk saat krisis moneter
tahun 1998. Soeharto pun memercayai Widjojo untuk mengambil
langkah-langkah penyelamatan krisis moneter yang melanda Indonesia saat
itu. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Penerangan Hartono dan
Gubernur Bank Indonesia Soedrajat Jiwandono di Bina Graha, 9 Oktober
1997.
Tapi ekonomi dan kekuasan Soeharto tidak tertolong. Laju inflasi
tahun 1997 sebesar 11,1 persen, membesar menjadi 77,6 persen tahun 1998.
Rakyat yang marah turun ke jalan, mahasiswa menduduki gedung DPR dan
kita tahu Soeharto kemudian mundur dari kursi presiden yang sudah
dikuasainya selama 32 tahun itu.
Sosok Widjojo juga diwarnai kontroversi sebutan Mafia Berkeley.
Julukan ini diperolehnya, karena Widjojo memimpin tim ekonomi yang
sebagian besar merupakan lulusan doktor dan master dari University of
California at Berkeley, Amerika Serikat. Tim ini dianggap menganut
ekonomi liberal ala AS.
Sebutan ini sendiri pertama kali ditulis oleh David Ransom, seorang aktivis Kiri Baru di Amerika Serikat, dalam majalah bernama
Ramparts,
edisi 4 tahun 1970. Di artikel itu Ransom menuduh Mafia Berkeley
sebagai proyek AS, terutama CIA, untuk menggulingkan Soekarno dan
melenyapkan pengaruh komunis di Indonesia.
Tapi tuduhan ini
dibantah oleh Boediono,
Wakil Presiden RI saat ini, sekaligus murid Widjojo Nitisastro.
"Dikesankan bahwa pelajar Indonesia mendapat beasiswa dari lembaga AS,
ini berarti mereka bagian dari rencana CIA untuk membuat Indonesia pro
AS. Tuduhan seperti itu tidak adil," kata Boediono saat memberikan
sambutan dalam peluncuran buku Widjojo Nitisastro di Hotel Dharmawangsa,
Jakarta, 14 Januari 2010.
Menurut Boediono, Widjojo justru
membawa Indonesia keluar dari jerat kebijakan ekonomi terpimpin. "Andai
dia (David Ransom) menulisnya sekarang, menyaksikan perubahan di negeri
sosialis, mungkin dia akan lebih memahami kebjakan ekonomi baru pak
Widjojo dan timnya," ujarnya.
Tuduhan Widjojo Nitisastro sebagai
boneka AS juga dinilai Boediono tidak masuk akal. Ini disebabkan
kebijakan ekonomi Widjojo lahir dari pengalaman dan sejarah ekonomi yang
terjadi di Indonesia.
"Dalam hal ini, pak Widjojo tidak berbeda
jauh dari pandangan pendiri bangsa yg bercita-cita mempertemukan
keadilan dengan kemakmuran, pemerataan, dan pertumbuhan. Cita-cita itu
tidak lain dan tidak bukan karena pengalaman kita. Bukan gagasan yang
dicangkok dari luar," tutur Boediono.
Widjojo Nitisastro yang
meninggal di usia 84 tahun ini pun meninggalkan sejumlah binaan ahli
ekonomi. Selain Boediono, Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani
Indrawati juga dianggap sebagai salah satu murid Widjojo Nitisastro.
(eh)
• VIVAnews